Minggu, 10 Mei 2009

TuGAS KELOMPOK BAGIAN 1

PENGOLAHAN DATA HASIL EVALUASI

DAN

PENENTUAN KKM

A. Pendahuluan

Pembahasan pada bagian makakalah-makalah terdahulu mulai dari kelompok 1 sampai dengan Kelompok 11 dibicarakan mulai dari Pengertian pengukuran, Penilaian, Teori, Cara Evaluasi Pembelajaran Matematika Teknik dan Contoh Instrumen Penilaian,Contoh Bentuk Penilaian Hasil Belajar, Kelebihan dan Kekurangan Penilaian Proses dan Hasil Belajar Matematika, Rambu-rambu Evaluasi Proses dan Hasil Belajar, Pengembangan Bentuk Tes Pilihan Ganda, Intrumen Non Tes, Pengembangan Penilaian Unjuk Kerja dan Proyek, Pengembangan Penilaian Portofolio sebagai salah satu bentuk Authentic Assesment serta Analisis Butir Test. Pada Makalah kali ini, sebagai kelompok terakhir pada kegiatan mata kuliah Evaluaisi Pembelajaran Matematika akan dibicarakan mengenai Pengertian Skor dan Nilai, Pemberian Skor, Acuan Penilaian, Penentuan Skor, Skala Penilaian, Pengolahan Skor dengan Pendekatan PAP dan PAN, Pemberian Nilai serta Penentuan KKM yang meliputi Pengertian dan Fungsi KKM, Mekanisme Penetapan KKM dan Analisis KKM.

Pembahasan mengenai hal-hal tersebut di atas berorientasi pada pekerjaan guru di sekolah dalam melaksanakan tugas sehari-harinya. Marilah kita bicarakan hal ikwal tentang Pengolahan Data Hasil Evaluasi dan Penentuan KKM, makalah ini berfungsi untuk menyegarkan kembali atau memperkaya apa yang telah kita ketahui. Kalau kita belum tahu banyak, lewat tulisan ini, kita akan mengenalnya, memahaminya, dan akhirnya berminat untuk melaksanakannya, untuk mencapai cita-cita Kita yang mulia, yaitu meningkatkan keberhasilan mendidik, mengajar dan melatih murid-murid kita, yang akan memberikan sumbangan yang signifikan pada peningktanan kualitas pendidikan nasional. Seperti tercantum dalam UU No 20/2003 tentang Sisdiknas, pasal 3, pendidikan nasional berfungsi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, yang merupakan salah satu tujuan kemerdekaan bangsa kita.

B. Pembahasan

PENGOLAHAN DATA HASIL EVALUASI

1. Pengertian Skor dan Nilai

Sebelum kita membicarakan tentang pengertian skor, terlebih dahulu akan dibahas mengenai bobot (weight). Bobot adalah berupa bilangan yang dikenakan terhadap setiap butir soal yang nilainya ditentukan berdasarkan usaha siswa (testi) dalam menyelesaikan soal itu. Dalam hal ini tinggi rendahnya usaha itu dipengaruhi oleh derajat kesukaran dan waktu yang diperlukan untuk menjawab soal yang bersangkutan dengan baik dan benar. Jika derajat kesukaran suatu butir soal (yang berhubungan dengan jenjang kognitif yang ingin dicapai) makin tinggi, maka makin besar pula bobot untuk butir soal tersebut, karena memerlukan usaha (kognitif) yang derajatnya lebih tinggi. Begitu pula jika penyelesaian soal yang bersangkutan makin memerlukan waktu yang lebih lama dari soal lainnya. Sebaliknya jika butir soal tersebut tergolong mudah dan waktu penyelesaiannya relatif lebih singkat dari waktu penyelesaiannya untuk butir soal lainnya, diberi bobot lebih kecil.

Bobot untuk suatu butir soal disebut skor untuk butir soal tersebut. Skor untuk keseluruhan butir soal dari suatu perangkat tes yang diperoleh seorang testi disebut skor tes dari testi tersebut. Skor ini disebut skor aktual, artinya skor kenyataan (empirik) yang diperoleh siswa. Jika skor tersebut paling rendah di antara skor-skor yang diperoleh siswa-siswa lainnya, disebut skor minimal aktual. Sebaliknya jika tertinggi disebut skor maksimal aktual. Jika seluruh soal dalam perangkat tes itu dapat dijawab dengan benar (tanpa salah), sesuai dengan harapan pembuat soal, skor untuk menyatakan kondisi ini disebut skor maksimum ideal (SMI). Sebaliknya untuk kondisi tidak ada satu butir soal pun yang dapat dijawab dengan benar disebut skor minimal ideal. Dengan demikian skor adalah bilangan yang merupakan data mentah (raw data) dari hasil suatu evaluasi, belum diolah lebih lanbjut. Jadi bersifat kuantitatif.

Karena skor masih merupakan data mentah maka tidak dapat di interpetasikan kalau ia masih berdiri sendiri, tanpa informasi lain yang relevan. Misalnya skor siswa A dalam suatu tes adalah 75. Skor tersebut tidak bisa dinterpretasikan karena tidak ada pembanding (tolak ukur) sebagai kriterianya. Jika skor maksimum idela (SMI)nya 100, intrepretasi dari skor 75 itu bisa ditafsirkan tergolong baik, karena tingkat penguasaannya 75%. Sedangkan jika SMI-nya 500 bisa ditafsirkan tergolong jelek, karena tingkat penguasaannya hanya sekitar 1,5%. Jika skor minimal aktualnya 75 maka intrepretasi skor itu sangat jelek (paling kecil) dibandingkan dengan skor yang diperoleh teman-temannya dalam kelompok tes yang bersangkutan. Begitu pula jika diketahui dua buah skor dari dua subjek yang berbeda, untuk dua tes yang berlainan tidak bisa ditafsirkan mana yang lebih baik sebelum dikathui data lain yang menunjang.

Jika skor (data mentah) tersebut diolah lebih lanjut, dengan menggunkan aturan dan kriteria tertentu sehingga dapat diintrepetasikan, hasil pengolahan tersebut dinamakan nilai. Nilai ini bisa berupa bilangan (kuantitatif) dan bisa pula berupa huruf atau kategori (kualitatif). Misalkan seorang siswa mendapat skor 90 dari skor maksimal ideal 100, kemudian skor tersebut diolah dengan menggunkan skala 1 sampai dengan 10 dan diperoleh nilai 9. Nilai 9 ini sudah dapat dintrepretasikan bahwa siswa tersebut tergolong pandai. Nilai 9 berupa bilangan, jadi kuantitatif. Jika diolah kedalam skala penilaian A, B, C, D, E dan diperoleh nilai B, nilai B tersebut disajikan secara kulaitatif.

2. Pemberian Skor

Telah diutarakan di muka bahwa penetuan bobot (skor) untuk setiap butir soal harus mempertimbangkan kadar kesulitan dan waktu yang dibutuhkan oleh testi dalam menyelesaikan soal yang bersangkutan. Kadar kesulitan yang lebih tinggi dan waktu penyelesaian yang lebih lama untuk suatu buir soal akan menentukan usaha siswa (pikiran dan tenaga) yang lebih banyak. Soal yang kadar kesulitannya lebih tinggi biasanya memerluan waktu penyelesaian yang lebih lama, tetapi tidak setiap butir soal yang memerlukan waktu penyelesaian yang lebih lama kadar kesulitannya lebih tinggi. Contohnya untuk soal sistem persamaan linear dengan 3 dan 4 variabel yang elementer. Untuk soal tersebut, jika prinsip penyelesaiannya sistem persamaan linear 2 variabel dapat dikuasai akan dapat dengan mudah menyelesaikannya, tetapi waktu yang dibutuhkan lebih banyak.

Pada butir soal type subjektif (bentuk uraian), untuk mengurangi subjektivitas dan perbedaan hasil pemeriksaan yang mencolok, pembuat soal hendaknya menyusun rambu-rambu penilaian yang harus diberikan kepada pemeriksa. Pertama kali berikanlah besarnya skor (bobot) yang akan diberikan untuk masing-masing butir soal berdasarkan kriteria di atas. Kemudian berikanlah skor untuk setiap langkah pengerjaan testi yang sifatnya kumulatif, sehingga skor untuk baris (langkah) terakhir sama dengan bobot untuk butir tersebut.

Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini. Pada contoh dibawah ini disajikan butir soal disertai dengan langkah-langkah jawaban yang i harapkan dan skor yang diberikan untuk setiap langkah pengerjaan itu.

Right Triangle:        1. C

R

20

P Q

S 25

A 15 B

Perhatikan gambar-gambar segitiga diatas jika luas daerah segitiga ABC sama dengan luas daerah segitiga PQR, tentukan tinggi segitiga PQR!

Penyelesaian

Luas daerah ∆ ABC = AB x AC = 15 x 20 Skor

2 2

= 150 satuan luas .............................. 4

Kerana

Luas daerah ∆ PQR = Luas daerah ∆ ABC ............................. 5

Maka PQ x QR = 150 ............................. 8

2

Jika kedua ruas dikalikan dengan 2

Diperoleh PQ x RS = 300 ............................ 9

Nilai PQ = 25, sehingg

25 x RS = 300 ............................ 9,5

atau RS = 300

2

RS = 12 ............................ 10

Jadi tinggi segitiga PQR = 12 satuan panjang

Pada contoh diatas, skor total untuk soal tersebut dimisalkan 10. Skor yang dicapai siswa, yang ditulis disebelah kanan, bersifat kumulatif. Ini berarti jika siswa telah mengerjakan dengan benar sampai langkah tersebut mendapat skor seperti yang ditulis di sampingnya. Pemberian skor tersebut tergantung pertimbangan kita (guru) pembuat soal dengan melihat usaha dan kemampuan berpikir siswa dalam mencapai langkah tersebut sehingga skor setiap langkah bisa berlainan.

2. Pak Ahmad membeli bak mandi yang bentuknya menyerupai balok dengan ukuran panjang 0,6 m, lebar 1 m, dan tingginya 0,8 m. Berapa liter volume bak tersebut?

Penyelasaian: Skor

Volume bak = panjang x lebar x tinggi 1

= 0,6 m x 1 m x 0,8 m 2

= (06,6 x 1 x 0,8) m3 3

= 0,48 m3 6

= 0,48 x 1000 dm3 7

= 480 dm3 9

= 480 liter 10

3. Selesaikan 136 x 30 dengan cara panjang

Penyelesaian: Skor

136 x 30 = (100 + 30 + 6 ) x 30 1

= (100 x 30) + (30 x 30) + (6 x 30) 2

= 3000 + 900 + 180 3

= 3000 + 900 + 100 + 80 3,5

= 3000 + 1000 + 80 4

= 4000 + 80 4,5

= 4080 5

Pada contoh nomor 3 di atas skor total adalah 5 karena derajat kesukaran dan waktu yang digunakan untuk meyelesaiak soal itu relatif lebih mudah dibandingkan dengan soal nomor 1 dan 2.

3. Acuan Penilaian

Menurut Woodwort(1961:28) ada dua jenis pedoman yang bisa digunakan untuk menentukan nilai (mengubah skor menjadi nilai) sebagai hasil evaluasi, yaitu:

1) dengan cara membandingkan skor yang diperoleh seorang individu(siswa) dengan suatu standar yang sifatnya mutlak (absolut), dan

2) dengan cara membandingkan skor yang diperoleh seorang individu (siswa) dengan skor yang diperoleh siswa lainnya dalam kelompok tes tersebut.

Cara pertama disebut dengan Penilaian Acuan Patokan (PAP), terjemahan dari Criterion Referenced Test (CRT) atau Criterion Refenrenced Evaluation (CRE). Sedangkan cara kedua disebut Penilaian Acuan Normatif (PAN), terjemahan dari Normative Referenced Test (NRT) atau Normatif Referenced Evaluation (NRE).

4. Pengolahan Skor dengan pendekatan PAP dan PAN

a. PAP (Penilaian Acuan Patokan )

Orientasinya : tingkat penguasaan siswa terhadap seluruh materi yang diteskan, sehingga nilai yang diperoleh mencerminkan presentase tingkat pengusaanya.

Diperlukan standar yang sifatnya absolut (mutlak) disebut dengan SMI yang sebelumnya telah ditetapkan lebih dahulu oleh guru/pembuat soal. Nilai setiap individu dicari dengan membandingkan skor yang bersangkuatan dengan SMI nya. SMI adalah skor tertinggi yang diperoleh oleh individu apabila individu menjawab benar semua soal yang diberikan.

b. PAN (Penilaian Acuan Normatif)

Orintasinya: kedudukan siswa/peserta/individu dalam kelompoknya. Pengolahan skor dengan PAN tidak memperhatikan SMI, hanya di dasarkan pada skor aktual yang diperoleh siswa (peserta)

Sistem Penilain

Keunggulan

Kelemahan

P

A
P

- Kualitas hasil belajar siswa dapat di kontrol, karena nilai yang diperoleh dapat mencerminkan tingkat penguasaan siswa

- Kondisi peserta tes tidak diperhatikan baik secara individu maupun kelompok

P

A

N

- Kedudukan relatif siswa dalam kelompoknya dapat diketahui

- Tingkat penguasaan siswa terhadap materi tes tidak dapat dikatahui, sehingga kualitas hasil belajar siswa tidak dapat terkontrol

Untuk mengatasi kekurangan pada kedua sistem penialian tersebut, sekaligus keunggulannya saling mendukung, digunakan sistem penilaian yang merupakan kombinasi dari sisten PAP dan sistem PAN. Untuk penggunaan sistem ini, ada dua cara yang ditempuh, yaitu dengan menentukan:

1) rerata X dan s dari hasil perhitungan sistem PAP dan sistem PAN, dan

2) batas lulus (pasing grade) untuk menjaga kualitas lulusan (penguasaan), kemudian dilakukan perhitungan dengan sistem PAN.

C. Perbandingan PAP dan PAN

No.

Penilaian Acuan Patokan (PAP)

Penilaian Acuan Normatif (PAN)

1.

PAP digunakan untuk menentukan status setiap peserta terhadap tujuan yang direncanakan

PAN digunakan untuk menentukan status setiap peserta terhadap kemampuan peserta lain

2.

Tidak memperdulikan perbedaan individual

Perbedaan individual mendapat penekanan dalam PAN

3.

Keragaman bukan menjadi faktor penentu dalam PAP, walaupun pada akhirnya tes-tes akan membedakan peserta yang telah menguasai dan belum menguasai

Pengembang PAN berupaya untuk menghasilkan tes-tes yang menghasilkan keragaman yang cukup berarti

4.

PAP secara khusus menekankan pada ranah (kawasan ) tertentu yang harus dipelajari peserta didik

PAN mengukur kompetensi umum peserta didik

5.

Butir-butir soal ditulis berdasarkan pengelompokkan, setiap kelompok terpusat pada tujuan tertentu

PAN menghasilkan penguasaan peserta didik secara umum dalam bidang pembelajaran tertentu

6.

PAP memberikan indikator yang lebih meyakinkan bahwa tujuan telah tercapai

PAN memberikan hasil pengukuran yang meyakinkan terhadap penguasaan secara umum mengenai pembelajaran

7.

PAP memiliki standar penguasaan untuk semua peserta yaitu berhasil atau gagal

PAN memiliki kecendrungan untuk menggunakan rentangan tingkat penguasaan seseorang terhadap kelompoknya, mulai dari yang sangat istimewa sampai dengan yang mengalami kesulitan yang serius

8.

PAP memberikan penjelasan tentang penguasaan kelompok terhadap satu atau sejumlah tujuan

PAN memberikan skor yang menggambarkan penguasaan kelompok

9.

Mudah menentukan materi yang belum dikuasai peserta didik dan mudah memberikan bantuan untuk menguasainya

Sukar menentukan dan memberi bantuan materi yang belum dikuasai peserta didik

10

Baik PAP maupun PAN diperlukan dalam pengukuran, karena keputusan yang tepat untuk memilih alat ukur yang digunakan akan sangat menentukan, misal alat ukur untuk UN berbeda dengan alat ukur untuk UMPT

5. Pemberian Nilai

Seperti diketahui bahwa skor hasil evaluasi seorang individu belum bisa diinterpretasikan tentang tingkat penguasaan atau kedudukan relatifnya dalam kelompok peserta evaluasi itu, jika tidak disertai informasi lain yang mendukung. Agar skor itu bisa dinterpretasikan harus diubah ke dalam bentuk nilai. Nilai tersebut bisa bersifat kuantitatif (dinyatakan dengan angka) dan bisa pula bersifat kualitatif (dinyatakan dengan huruf atau katagori).

Untuk mengubah skor menjadi nilai digunakan teknik analisis tertentua dan skala penilaian. Berikut contoh cara pengolahan nilai dengan menggunakan skala 10:

SKALA SEPULUH:

Penggunaan skala sepuluh akor aktual siswa ditarnfer ke dalam nilai : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10. Hal ini diasumsikan bahwa siswa yang sudah belajar tidak mungkin pengetahuannya tidak bertambah, apalagi berkurang. Oleh sebab itu, nilai 0 (nol) ditiadakan.

Pembagian interval untuk untuk skala 10 dilakukan dengan cara selang pada kurva normal dibagi menjadi 10 bagian yang sama jaraknya, yaitu 0,6 s ( s = simpangan baku)

Tabel konversi untuk skala 10 adalah sebagai berikut:

+ 2,25 s ≤ 10

+ 1,75 s ≤ 9 < + 2,25 s

+ 1,25 s ≤ 8 < + 1,75 s

+ 0,75 s ≤ 7 < + 1,25 s

+ 0,25 s ≤ 6 < + 0,75 s

- 0,25 s ≤ 5 < + 0,25 s

- 0,75 s ≤ 4 < - 0,25 s

- 1,25 s ≤ 3 < - 0,75 s

- 1,75 s ≤ 2 < - 1,25 s

1 < - 1,75 s

Contoh data fiktif mengenai hasil tes:

56 60 76 49 72

76 65 67 58 90

84 83 72 79 85

32 72 75 65 83

97 43 87 62 74

46 35 90 61 83

21 37 65 50 29

37 42 58 49 38

66 36 57 55 40

70 69 62 43 52

Dengan menggunakan kalkulator diproleh : nilai rata-rata () = 61,06

dan simpangan baku (s) = 18,45 (menggunakan n-1)

Berdasarkan nilai rata-rata dan simpangan baku yang diproleh maka dapat disusun tabel konversi sebagai berikut :

102,57 ≤ 10

93,35 9 < 102,57

84,12 8 < 93,35

74,89 7 < 84,12

65,67 6 < 74,89

56,45 5 < 65,67

47,22 4 < 56,45

37,99 3 < 47,22

28,77 2 < 37,99

19,55 1 < 28,77

Dengan sistem PAN, apabila ada siswa B memperoleh skor 89,6 maka dengan tabel konversi skala 10 di atas langsung dapat ditetapkan nilai siswa B adalah 8.

Dengan menggunkan sisten PAP, karena kurvanya berdistribusi normal, maka kita menggunakan nilai SMI untuk menetapkan baru dan s baru diambil sebagai setengah SMI dan nilai simpangan baku s baru sama dengan sepertiga nilai rata-rata.

baru = ½ SMI, dan

s baru = 1/3

Sehingga untuk soal diatas: Misalnya SMI = 100

baru = ½ . 100 = 50, dan

s baru = 1/3 .50 = 16,67

Diperoleh tabel konversi berikut ini:

87,51 ≤ 10

79,17 9 < 87,51

70,84 8 < 79,17

62,50 7 < 70,84

54,17 6 < 62,50

45,83 5 < 54,17

37,50 4 < 45,83

29,16 3 < 37,50

20,83 2 < 29,16

12,49 1 < 20,83

Setelah menetapkan tabel konversi yang baru, dengan dibandingkan SMI nya, maka untuk siswa B yang skornya 89,6 berdasarkan tabel konversi baru diatas, nilai yang diperoleh adalah 10.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar